Meng inventarisasi Santri Yang Mutasi
Agenda rutinan sekolah di bulan Juni adalah ujian akhir semester. Sesuai dengan kalender pendidikan nasional, bulan Juni selain bulan ujian juga bulan liburan akhir semester. Nah bagaimana dengan pesantren??
Untuk Asshiddiqiyah tahun- tahun sebelumnya, santri ujian semester nya di akhir Juni dan liburan akhir semester di awal Juli.
Sedangkan tahun 2026 kali ini, ujian semester di pertengahan Juni dan liburan semester di akhir Juni serta santri langsung menerima rapor kenaikan kelas. Padahal biasanya, rapot dibagikan ketika kedatangan santri di bulan Juli. Agar santri mau kembali ke pondok dengan tepat waktu.
Tahun ini, santri menerima rapot di hari ahad 28 Juni sekaligus perpulangan santri. Sebagai informasi bahwa, ujian terakhir santri adalah dihari sabtu 27 Juni atau H-1 sebelum perpulangan.
Jadi bisa dibayangkan sendiri, bagaimana proses koreksi hasil ujian santri dengan waktu yang super mepet plus proses pe ngeprint an rapot yang memang sudah sistem online atau RDM (Rapot Digital Madrasah), pastinya dengan sangat buru-buru.
Kekhawatiran kami terjadi, yaitu ketika rapot dibagikan ketika perpulangan, seolah memberi kelonggaran anak yang tidak betah dengan mudahnya menggunakan rapot untuk mencari sekolah yang baru.
Tahun ini, santri putri banyak yang mutasi dengan berbagai macam alasan. Padahal tahun sebelumnya, ketika ada yang berniat pindah, mereka mengurung kan niatnya karena rapot belum dibagikan. Hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang tua untuk mengulur waktu agar anaknya tidak jadi pindah. Meskipun banyak juga orang tua yang kalah dengan anaknya. Namun, dengan lambat nya memberikan rapot, lumayan dapat membantu mengulur waktu agar santri tidak jadi pindah. Sayang nya, opsi yang disetujui di rapat pimpinan adalah membagikan rapot disaat perpulangan dengan alasan, liburan nya 3 minggu dan sudah jauh memasuki tahun ajaran baru. Ya.. Sudahlah...
Inventarisasi santri putri yang mutasi:
SMP: kls 8: 3 anak, kelas 9: 3 anak, total 6 orang
MA: kelas 11: 5 anak, tapi yang 2 bisa dirayu, jadi total 3 orang
Total SMP dan MA putri= 9 orang
Beberapa alasan santri putri yang mutasi
Kelas 8:
1. Mutia: sdh sowan bunyai, anak nya yatim, ibu sudah Sepuh, dan ekonomi kurang. Menolak dibantu bunyai, sekarang sekolah di SMP negeri
2. Tasya Amalia: pindah mendadak, karena ingin sekolah diluar. Di kamar tdk ada masalah. Menagih janji ayah nya, yang hanya mondok setahun saja. Padahal kakaknya lulusan Asshiddiqiyah yang mondok selama 3 tahun
3. Alisha Alya Berliani: orang tuanya langsung ke sekolah. Di kamar tdk ada masalah, info dari wali asuh, Alisha justru yang sering ngomong kata kasar, dan sering kena takzir. Alasan pindah, minta sekolah diluar.
Kls 9:
4. Dhea Ikmal: terkait masalah kmr 1, umi Mamluk, Dhea dituduh Cepu oleh teman karena melapor masalah HP. Sdh mencoba pindah ke tahfidz, tapi info dr orang tua, anaknya tetap minta pindah.
5. Raihana: Anak alumni, mbak Asmailis. Pemicunya masalah kmr 1, Hana yg bawa HP dan memang dari awal dipaksa mondok. Alasan dr orang tua, anaknya ada 3 di asshiddiqiyah, jadi mengurangi biaya.
6. Ilma Maulidia: asal nya dari Maluku, sebelum nya pernah ada masalah dg teman ttg sindir menyindir, tapi sudah diselesaikan dan akur dg teman-teman nya. Tapi orang tua, memaksa Ilma disuruh pindah ke Maluku.
Santri kls 11 yg berhasil dirayu kembali ke pesantren:
1. Zahira: anak lama, sudah daftar ke sekolah yang baru, sudah pamit bunyai, tapi tiba-tiba ragu masuk sekolah yang baru. Akhirnya kembali ke pondok.
2. Syabila: dijemput ke rumah oleh rombongan teman sekamar, awal nya tidak mau, hanya kopernya saja yang dibawa ke pondok. Alhamdulillah 3 hari kemudian, Syabila mau balik ke pondok.
3. Gina : rumah di lampung, lurah sudah menghubungi bapak Gina, tapi blm bisa menghubungi Gina. Menurut Bapaknya,Gina tdk mau kembali ke pondok,dan minta sekolah diluar. Rencana teman2 video call dg Gina msh blm bisa, karena Gina msh susah dihubungi. Ketika Gina datang ke pondok sudah membawa surat dari sekolah negeri yang baru di daerah lampung.
Adapun, 2 anak kls 5, orang tuanya memindahkan anaknya tanpa konfirmasi ke lurah, tapi langsung ke sekolah. Yaitu
4. Keysa: dr kls 4 lama, skg melanjutkan ke sekolah negeri.
5. Mercylla: Dr kls 4 baru, sekarang melanjutkan ke sekolah negeri.
Selanjutnya, inventarisasi ini menjadi evaluasi kami agar ke depannya, santri bisa lebih betah di pondok hingga lulus sampai Kelas akhir, berprestasi, dan bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi dan lebih baik lagi. Aamiin
Komentar
Posting Komentar